Perlindungan Budaya Tradisi Mandiu Pasili pada Masyarakat Suku Kaili di Kabupaten Donggala

Authors

  • Rosnani Lakuna Fakultas Hukum Universitas Tadulako
  • Aifan Fakultas Hukum Universitas Tadulako
  • Andi Bustamin Daeng Kunu Fakultas Hukum Universitas Tadulako

DOI:

https://doi.org/10.37950/joc.v5i2.830

Abstract

Tradisi Mandiu Pasili merupakan bagian dari warisan budaya masyarakat Suku Kaili yang mengandung nilai filosofis, solidaritas sosial, dan identitas kolektif dalam prosesi perkawinan adat. Namun, keberlangsungannya menghadapi tantangan akibat modernisasi, perubahan orientasi generasi muda, keterbatasan ekonomi, dan belum optimalnya dukungan pelestarian budaya. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran masyarakat Suku Kaili dalam pelestarian tradisi Mandiu Pasili serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi perlindungannya di Kabupaten Donggala. Penelitian menggunakan pendekatan yuridis empiris dengan spesifikasi deskriptif analitis. Data diperoleh melalui studi kepustakaan dan penelitian lapangan, termasuk wawancara dengan tokoh adat, tokoh masyarakat, dan kepala desa, kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelestarian Mandiu Pasili berkaitan dengan keterlibatan masyarakat dalam mempertahankan pelaksanaan ritual, mewariskan pengetahuan budaya, dan memperkuat solidaritas antargenerasi. Faktor yang memengaruhi keberlangsungannya meliputi globalisasi dan modernisasi, kemampuan ekonomi masyarakat, keterlibatan generasi muda, serta kebutuhan dukungan kebijakan pemerintah. Kajian ini menunjukkan bahwa perlindungan Mandiu Pasili tidak cukup dilakukan melalui pemeliharaan bentuk ritual, tetapi juga memerlukan keberlanjutan nilai budaya, partisipasi masyarakat, dan penguatan kelembagaan. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman perlindungan kebudayaan berbasis masyarakat dengan menghubungkan praktik adat dan kerangka hukum pemajuan kebudayaan sebagai dasar pengembangan strategi pelestarian yang partisipatif dan berkelanjutan.

Kata kunci: Mandiu Pasili; perlindungan budaya; Suku Kaili; partisipasi masyarakat; yuridis empiris.

References

Braun, V., & Clarke, V. (2022). Thematic Analysis: A Practical Guide. SAGE.

Donkoh, S., & Mensah, J. (2023). Application of Triangulation in Qualitative Research. Journal of Applied Biotechnology & Bioengineering, 10(1), 6–9. https://doi.org/10.15406/jabb.2023.10.00319

Edwan, & Adrian, D. (2022). Komunikasi Keluarga dalam Pelestarian Budaya Suku Kaili di Kabupaten Donggala. Kinesik, 9(3), 242–248. https://doi.org/10.22487/ejk.v9i3.505

Efendi, Ali, Syamsudin, Suputra, G. K. A., Dewi, A. K., & Amalia, M. N. (2023). Mandiu Pasili in the Traditional Wedding Processions of the Kaili Tribe in Pevunu Village, Sigi Regency: Semiotic Studies. Jurnal Gramatika: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 9(1), 125–143. https://doi.org/10.22202/jg.2023.v9i1.6639

Enworo, O. C. (2023). Application of Guba and Lincoln’s Parallel Criteria to Assess Trustworthiness of Qualitative Research on Indigenous Social Protection Systems. Qualitative Research Journal, 23(4), 372–384. https://doi.org/10.1108/QRJ-08-2022-0116

Idil, Juraid, Suyuti, Hasan, Nongtji, M., & Jayanti, I. N. (2025). History of the Kaili Ethnic Petambuli Tradition in Kayumalue Ngapa Village. Journal of English Language and Education, 10(6), 1265–1270. https://doi.org/10.31004/jele.v10i6.1859

Irade, A. S. L., & Yasin, R. C. L. (2022). The View of Religious Figures on Mandiu Pasili Tradition in the Marriage of the Kaili Tribe from the ’Urf Perspective (Study in Wani Satu Village, Tanantovea District, Donggala Regency). Sakina: Journal of Family Studies, 6(4). https://doi.org/10.18860/jfs.v6i4.2322

Khairul, M., Junaidi, M., Ariyani, R., & Hapsa. (2024). Preserving and Adapting the Mappadendang Ritual by the Bugis Ethnicity in the Kaili Indigenous People’s Area. SIGn Journal of Social Science, 4(2), 114–126. https://doi.org/10.37276/sjss.v4i2.337

Nuraedah, & Saefudin, A. (2024). The Dilemma of Cultural Commodification Policy of Barkcloth: A Study of the Kaili Community in Pandere Village, Indonesia. Kasetsart Journal of Social Sciences, 45(2), 625–632. https://doi.org/10.34044/j.kjss.2024.45.2.29

Pasundan, F. H. U. (2015). Panduan Penyusunan Penulisan Hukum (Tugas Akhir). Fakultas Hukum Universitas Pasundan.

Sholehah, N., Kusnadi, & Alisyah, M. F. R. (2024). Praktik Maniu Appasili dalam Pernikahan Suku Kaili di Desa Bulu Parigi Sulawesi Barat. Wasathiyah: Jurnal Studi Keislaman, 5(1).

Soekanto, S. (1982). Kesadaran Hukum dan Kepatuhan Hukum. Rajawali.

Sulaiman. (2008). [Sumber “Sulaiman (2008)” belum dapat diidentifikasi secara meyakinkan].

Talha, A., Nuraedah, Hasan, & Juraid. (2026). The Role of Customary Leaders in Preserving the Nogigi Tradition in the Kaili Rai Traditional Marriage Ceremony. Urwatul Wutsqo: Jurnal Studi Kependidikan dan Keislaman, 15(2), 714–727. https://doi.org/10.54437/urwatulwutsqo.v15i2.2927

Virgiawan, E. (2024). The Symbolic Meaning of the Sambulu Gana in the Wedding of the Kaili Rai Tribe in West Mamboro Village, North Palu District. Social Humanity: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 8(1), 37–47. https://doi.org/10.22487/j.sochum.v8i1.1895

Downloads

Published

2026-08-14

Issue

Section

Articles